MANTIQ (LAWAHIQ AL-QIYAS)

MAKALAH
LAWAHIQ AL QIYAS
DibuatgunamemenuhitugasmatakuliahIlmuMantiq
DosenPengampu :M. MujibHidayat. M. Pd. I

Disusunoleh:
Al Qomariyah (NIM:2033115011)
JURUSAN ILMU HADITS
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH
IAIN PEKALONGAN
2017

PENDAHULUAN
Ilmu Mantik adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang dapat membimbing manusia ke arah berfikir secara benar yang menghasilkan kesimpulan yang benar sehingga ia terhindar dari berfikir secara keliru yang menghasilkan kesimpulan salah. Kaidah-kaidah tersebut tidak saja membimbing manusia ka arah bagaimana ia berfikir melainkan juga mengajarnya tentang cara berfikir supaya dengan segera ia bisa sampai kepada kesimpulan yang benar.
Ilmu mantiq sangat penting diajarkan kepada para pelajar, baik dikalangan perguruan umum atau agama, agar mereka dapat terdidik berfikir secara sistematis, kritis, dan analistis, sehingga pengetahuannya terhindar dari kesalahan. Imam al-Ghazali berkata: “Sesungguhnya orang yang tidak menguasai Ilmu Mantiq, maka tidak dapat dipertanggungjawabkan pengetahuannya.
Diantara pembahasan Ilmu Mantiq ialah Lawaiq al-Qiyas, Pembagian hujjah, dan Kesalahan dalam Silogisme. Untuk itu penulis akan membahas dlaam makalah kali ini.

PEMBAHASAN
A. Lawahiq al Qiyas (Berbagai Ragam Qiyas)
و منه ما يدعونه مركبا – لكونه من حجح قد ركبا
فركبنه إن ترد أن تعلمه – واقلب نتيجة به مقدمه
يلزم من تركيبها بأخرى – نتيجة إلى هلم جرا
“Di antara Qiyas, ada yang mereka namakan murokkab, karena qiyas ini terdiri dari banyak hujjah.”
“Maka sususlah Qiyas, jika kau ingin mengetahuinya, dan buatlah natijahnya sebagai muqaddimah.”
“Yang muqaddimah itu dirangkai dengan muqaddimah lain melahirkan suatu natijah lain dan seterusnya.”
Terdapat beberapa Qiyas yang oleh para ahli logika disebut Qiyas Murakkab (Silogisme Majemuk), Istiqra’ (Induktif) dan Tamtsil (Analogi).
1. Qiyas Murokkab
هو قياس مركب من قياسين بسبطين أو من عدة أقيسة بحيث تكون نتيجة كل منها مقدمة لقياس تتلوه
Qiyas yang tersusun dari dua qiyas yang sederhana (mudah) atau dari beberapa qiyas yang setiap natijahnya menjadi muqaddimah bagi qiyas yang mengikutinya.
Qiyas yang diikutinya disebut Qiyas Sabiq; dan qiyas yang mengikutinya disebut Qiyas Lahiq.
Contoh:
هذا ذهب
وكل ذهب معدن
هذا معدن
Benda ini emas; Setiap emas itu barang tambang; Jadi benda ini barang tambang.
هذا معدن
وكل معدن يمتد بالحرارة
هذا يمتد بالحرارة
Benda ini barang tambang; Setiap barang tambang itu jika dipanaskan akan memuai; Jadi, benda ini jiak dipanaskan akan memuai.
Kesimpulan (natijah) “benda ini jika dipanaskan akan memuai”, bisa dijadikan muqaddamah shugra lagi, dan seterusnya.
2. Pembagian Qiyas Murokkab
متصل النتائج الذي حوى- يكون أو مفصولها كل سوا
“Ada yang sambung natijah-natijahnya, yaitu yang memuat natijah atau ada yang terpisah natijah-natijahnya, masing-masing adalah sama.”
Qiyas Murakkab ada dua, yaitu:
a. Muttashilun Nata’ij (متصل النتائج), yaitu Qiyas Murakkab yang natijah-natijahnya disebutkan secara eksplisit, untuk dijadikan premis minor (مقدمة صغرى) bagi Qiyas Lahiq.
Contoh Qiyas Sabiq:
Premis Minor : Ini adalah pohon
Premis Mayor : Setiap pohon adalah tumbuhan
Qiyas Lahiq : Ini adalah tumbuh-tumbuhan
Contoh Qiyas Sabiq dan Lahiq :
Premis Minor : Ini adalah tumbuh-tumbuhan
Premis Mayor : Setiap tumbuhan berkembang
Konklusi : Ini adalah dapat berkembang
Contoh Qiyas Lahiq :
Premis Minor : Ini adalah dapat berkembang
Premis Mayor : Setiap yang berkembang butuh makanan
Konklusi : Ini memerlukan makanan
b. Munfashilun Nataij (منفصل النتائج) yaitu Qiyas murakkab yang natijah-natijahnya tidak disebutkan secara eksplisit. Contoh :
– Ini adalah pohon
– Setiap pohon adalah tumbuh-tumbuhan
– Setiap tumbuh-tumbuhan adalah berkembang
– Setiap yang tumbuha memerlukan makanan
– Ini memerlukan makanan
Natijah-natijah juz’iyyah dalam Qiyas Murakkab di atas tidak disebut, hanya natijah terakhir yang diperlukan saja yang disebutkan.
Kedua macam Qiyas Murakkab ini sama dalam menunjukkan natijah (konklusi) yang dikehendaki.
3. Qiyas Istiqra’
وإن بجزئي علي كلّى استدل – فذا بالإستقراء عندهم عقل
وعكسه يدع القياس المنطقي – وهو الذي قدمته فحقّق
“Apabila hal yang juz’iy itu digunakan menunjukkan hal yang menyeluruh (kulliy), maka istidlal ini menurut ahli logika disebut Istiqra’.
“Lawan Qiyas Istiqra’ disebut Qiyas Manthiqi, dan Qiyas Manthiqi ini telah saya sebutkan dahulu, maka tahqiqkanlah.”
Secara lughawi, istiqra’ berarti penyelidikan dan penelitian sesuatu; sedangkan secara istilah, pengertian istiqra’ adalah sebagai berikut:

Menurut Al-Jurzani:
الحكم على كلّىّ لوجوده فى أكثر جزئيّاته
Menetapkan sesuatu atas keseluruhan berdasarkan adanya sesuatu pada banyak fakta.
Dari pengertian tersebut dapat diketahaui bahwa Istiqra’ (Induktif) ialah hal yang bersifat partikular (Juz’iy) digunakan sebagai bukti suatu hal yang bersifat universal (Kulliy). Istiqra’ terbagi menjadi dua, yaitu: (1) Istiqra’ Tam, (2) Istiqra’ Naqis
Istiqra’ Tam ialah cara berfikir induktif dengan langkah memulai dari kaidah dari kaidah (hal-hal atau peristiwa) khusus untuk menentukan hukum (kaidah) yang umum dan dalam realitas , hukum umum tersebut berlaku untuk seluruh bagiuan-bagiannya yang sejenis. Jika kebenaran kesimpulan (hukum atau kaidah) yang diperoleh melalui istiqra’ itu meyakinkan, maka metode memperolehnya disebut istiqra’ tam.
Contoh:
Bulan Januari kurang dari 32 hari
Bulan Februari kurang dari 32 hari
Bulan Maret kurang dari 32 hari
Bulan April kurang dari 32 hari
(Dan seterusnya, semuanya kurang dari 32 hari)
Jadi, Semua bulan Masehi kurang dari 32 hari.
Kebenaran kesimpulan itu meyakinkan, tidak termasukkan keraguan ke dalamnya.
Istiqra’ Naqish adalah penarikan kesimpulan induktif seperti yang berlaku pada istiqra’ tam. Tetapi kebenaran kesimpulannya relative meyakinkan, yakni sampai di tingkat zhan atau secara umumnya benar.
Contoh:
Kambing jika makan, rahang bawahnya bergerak
Kerbau jika makan, rahang bawahnya bergerak
Kuda jika makan, rahang bawahnya bergerak
Monyet jika makan, rahang bawahnya bergerak
Kelinci jika makan, rahang bawahnya bergerak
Burung jika makan, rahang bawahnya bergerak
(tentunya dengan mengamati pula hewan-hewan lainnya)
Jadi, semua hewan jika makan, rahang bawahnya bergerak.
Kesimpulan tersebut diyakini benar secara umumnya saja. Sebab, ada hewan yang ketika makan ternyata rahang atasnya bergerak yaitu buaya.
4. Qiyas Tamtsil
وحيث جزئي على جزء حمل – لجامع فذاك تمثيل جعل
ولا يفيد القطع بالدليل – قياس الإستقراء والتمثيل
“Dan apabila hal yang juz’iy digunakan sebagai dalil hal yang juz’iy pula, karena sifat yang sama, maka disebut Tamtsil.”
“Dan Qiyas Istisra’ dan Qiyas Tamtsil itu tidak dapat memberikan kebenaran yang pasti.”
Qiyas Tamtsil ialah menetapkan hukum hal yang bersifat juz’iy pada hal juz’iy yang lain, karena adanya kesamaan antara keduanya. Seperti; Nabidz (perasan anggur) disamakan Khamer dalam hal memabukkan. Bagian (juz) pertama, disebut Asal, yaitu Khamer dan bagian (juz) kedua disebut Far’u, yaitu Nabidz. Kesamaan di antara keduanya adalah unsure memabukkan.
Dengan uraian di atas dapat diketahui bahwa untuk mengambil suatu konklusi harus mwnggunakan salah satu dari tiga macam Qiyas (Silogisme) , yaitu:
1. Mantiqi
2. Istiqra’
3. Tamtsil
B. Pembagian Hujjah
Pembagian hujjah ada dua macam, yaitu:
a. Hujjah Naqliyah
b. Hujjah ‘Aqliyah (Rasional).
Hujjah Naqlliyah ialah hujjah yang diambil dari al-Qur’an, al-Hadits, atau Ijma’ ulama.
Hujjah Aqliyah ialah hujjah yang berdasarkan akal. Hujjah ini ada lima, yaitu Khithabiyah, Syi’riyah, Burhaniyah, Jadaliyah, dan Safsathaiyyah. Dari kelima macam hujjah tersebut yang dapat memberi kesimpulan yang pasti benar adalah hujjah Burhaniyah.
Burhaniyah yaitu hujjah yang disusun dari muqoddimah-muqoddimah yaqiniyah (muqoddimah-muqoddimah yang memastikan) yang dapat menimbulkan kesimpulan yang meyakinkan. Hujjah ini dikatakan member kesimpulan yang pasti benar karena tersusun dari premis-premis yang dapat dipastikan kebenarannya.
Adapun hal-hal yang dapat memberikan kepastian kebenaran itu ada enam, yaitu: Awwaliyat, Musyahadat Batiniyyah, Mujarrabat (data empiris), Mutawatirat (suksesif), Hadasiyat (Intuitif), dan Mahsusat (Inderawi).
C. Kekeliruan dalil Burhan
Kesalahan dalam Al-Burhani, (Qiyas) ada dua macam:
1. Kesalahan dari segi matan / isi
2. Kesalahan dari segi bentuk
Kesalahan dalam Al-Burhan, bagian Qiyas (Silogisme) yang paling akurat dari segi materi adakalanya disebabkan penggunaan lafazh dan adakalanya disebabkan kesalahan arti atau makna.
Kesalahan dari segi lafadz, seperti penggunaan lafadz yang mengandung dua arti (musytarak) dalam muqaddimah. Contoh:
– Muqaddimah sughra : Setiap pemimpin pada sebuah instansi disebu kepala
– Muwaddimah kubra : Setiap kepala dipenggal menyebabkan kematian
– Natijah : Setiap pimpinan pada suatu instansi dipenggal menyebabkan mati
Dalam muqaddimah tersebut terdapat kata yang mengandung dua arti (musytarak), yaitu kata kepala. Kata kepala pada premis minor berbeda artinya dengan kata kepala pada premis mayor. Karenanya kesimpulannya pasti salah.

Kesalahan dari segi lafadz juga disebabkan penggunaan lafadz yang berbeda yang berarti sama (sinonim) dalam muqaddimah, contoh :
– Muqaddimah sughra : Setiap hewan itu orang
– Muqaddimah kubro : Setiap orang itu manusia
– Natijah : Seriap hewan iu manusia
Adapun kesalahan dalam qiyas dari segi materi (madah) yang kedua adalah disebabkan makna, sebagaimana adanya kemiripan muqaddimah yang salah dengan muqaddimah yang benar, seperti :
1. Menghukumi hal yang bersifat aksidental (عرض) dengan hal yang bersifat substansional (الذاتي).
2. Menjadikan natijah sebagai salah satu muqaddimah.
3. Menghukumi jenis dengan hukum nau’. contoh:
– Kuda itu hewan
– Setiap hewan berfikir
– Sebagian kuda berfikir
4. Menghukumi hal yang belum pasti sebagai hal yang pasti.
Adapun kesalahan qiyas dari segi bentuk ini disebabkan bentuk tidak sesuai dengan salah satu dari empat bentuk qiyas yang telah diterangkan; atau bentuknya sudah sesuai dengan salah satu bentuk qiyas yang telah ditentukan, tetapi dalam mengambil kesimpulan tidak memenuhi syarat intaj.

PENUTUP
SIMPULAN
1. Terdapat beberapa ragam Qiyas diantaranya yaitu Qiyas Murakkab (Silogisme Majemuk), Istiqra’ (Induktif) dan Tamtsil (Analogi).
2. Pembagian hujjah ada dua yaitu hujjah aqliyah dan hujjah natijah.
3. Kesalahan dalam dalil burhan ada dua segi yaitu dari kesalahan dari segi matan / isi dan dari segi bentuknya.

Why not?

WIN_20170513_092736

 

Why not smile?, if every one ask you to do it. Why not continue my study, when this way will take me seize my dream.